APAAJA.NET – Di usia yang masih sangat muda, 22 tahun, Munifah membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih prestasi akademik. Mahasiswi Program Studi Sistem Informasi Universitas Terbuka (UT) Jakarta ini berhasil mencatatkan diri sebagai wisudawan terbaik, setelah menyelesaikan studinya hanya dalam waktu 3,5 tahun. Prestasi tersebut semakin istimewa karena Munifah menuntaskan kuliah sambil bekerja paruh waktu sebagai admin.
Alasan Munifah Memilih Kuliah Jarak Jauh di Universitas Terbuka
Bagi Munifah, memilih kuliah jarak jauh di Universitas Terbuka bukanlah sekadar alternatif, melainkan keputusan yang paling sesuai dengan kondisi dan kesiapan dirinya. Ia mengakui bahwa sistem pembelajaran di UT menuntut kemandirian yang tinggi dari mahasiswa. Tidak adanya pertemuan tatap muka secara rutin membuat mahasiswa harus mampu mengelola waktu, disiplin, dan bertanggung jawab penuh atas proses belajarnya.
“Karena enggak selalu ketemu dosen langsung, jadi apa-apa harus mandiri. Harus tanggung jawab sendiri, disiplin, dan atur waktu sendiri,” ujar Munifah.
Munifah mulai menempuh pendidikan di UT pada awal 2022, setelah sebelumnya menjalani gap year selama enam bulan. Ia sempat mencoba berbagai jalur masuk perguruan tinggi, seperti SNMPTN dan SBMPTN, bahkan mendaftar Global Korea Scholarship (GKS) untuk melanjutkan studi ke Korea Selatan. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil.
Ketika pendaftaran universitas konvensional telah ditutup, Munifah memilih UT agar tidak menunda kuliah lebih lama. Keputusan tersebut justru menjadi titik balik penting dalam hidupnya. Menurutnya, sistem kuliah jarak jauh sangat cocok dengan kebutuhannya saat itu.
“Kuliah jarak jauh benar-benar cocok banget buat saya. Awalnya juga belum siap masuk kuliah konvensional. Dengan online, bisa dijangkau dari mana pun dan sambil kerja juga jadi lebih fleksibel atur jadwal,” tuturnya.
Baca Juga: Perjuangan Mahasiswa Autis Asperger Raih Gelar Sarjana Peternakan di UGM
Kuliah Sambil Kerja, Tantangan yang Berbuah Prestasi
Fleksibilitas sistem UT memungkinkan Munifah tetap bekerja tanpa mengorbankan kuliah. Ia menjalani pekerjaan part-time sebagai admin dengan sistem work from home (WFH) dan jam kerja yang menyesuaikan kebutuhan akademik. Dukungan dari tempat kerjanya juga menjadi faktor penting keberhasilannya.
“Alhamdulillah dapat kesempatan dari owner. Kuliah tetap jadi prioritas pertama. Kalau ada kegiatan kampus, saya bisa izin tanpa harus meninggalkan pekerjaan,” katanya.
Baca Juga: Terbongkar! Jejak Panjang Riza Chalid dari Skandal Minyak hingga Masuk Daftar Buronan Interpol
Strategi Lulus Cepat dengan Skema Non-SIPAS
Munifah memilih skema non-SIPAS (Sistem Paket Semester), yang memberi kebebasan bagi mahasiswa untuk mengatur mata kuliah setiap semester. Sejak awal, ia telah menyusun rencana studi dari semester pertama hingga akhir dengan target lulus lebih cepat.
“Dari awal memang targetnya lulus cepat. Saya sudah buat daftar mata kuliah dari semester satu sampai terakhir. Kalau ada yang belum lulus, bisa dimasukkan di semester akhir,” jelasnya.
Strategi tersebut membuahkan hasil. Munifah berhasil menyelesaikan studi hanya dalam tujuh semester dan meraih IPK 3,93, sekaligus mengantarkannya menjadi wisudawan terbaik UT Jakarta.
Target Selanjutnya: Lanjut S2 ke Jepang
Setelah resmi menyandang gelar sarjana, Munifah tidak ingin berhenti sampai di situ. Ia kini tengah mempersiapkan diri untuk melanjutkan studi S2 ke luar negeri, dengan Jepang sebagai negara tujuan. Ketertarikannya muncul setelah mendapat saran dari seorang profesor di Universitas Indonesia yang memiliki banyak mahasiswa binaan di Jepang.
Untuk jenjang studi lanjut, Munifah tertarik mendalami data sains atau kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), sejalan dengan latar belakang Sistem Informasi yang ia tekuni. Saat ini, ia mulai mencari informasi beasiswa dan mempersiapkan sertifikat IELTS sebagai syarat utama.
“Semoga bisa tetap konsisten seperti sekarang dan secepatnya lanjut pendidikan lagi, agar motivasinya masih tinggi,” harap Munifah.
Inspirasi dari Pendidikan Jarak Jauh
Kisah Munifah menjadi bukti bahwa dengan perencanaan matang, disiplin, dan semangat pantang menyerah, pendidikan jarak jauh dapat menjadi jalan menuju prestasi dan mimpi yang lebih besar.
Baca Juga: Darurat Literasi di Sekolah: Ketika Banyak Siswa Bisa Membaca, Tapi Tak Memahami



