APAAJA.NET – Kasus Mahasiswa UIN Suska Riau bacok teman menjadi sorotan publik setelah aksi kekerasan tersebut terjadi di lingkungan kampus. Pelaku diduga nekat melakukan penyerangan karena sakit hati usai cintanya ditolak oleh korban.
Berdasarkan keterangan sementara, pelaku sengaja datang dari rumah dengan membawa senjata tajam berupa kampak dan parang. Namun dalam kejadian tersebut, kampak yang digunakan untuk menyerang korban.
Motif sementara yang diungkap adalah karena cinta ditolak. Pelaku disebut telah menargetkan korban sejak awal sebelum aksi dilakukan. Peristiwa ini tentu menimbulkan kekhawatiran mengenai keamanan lingkungan pendidikan dan kondisi psikologis pelaku.
Apakah Kasus Mahasiswa UIN Suska Riau Bacok Teman Terkait Erotomania?
Muncul pertanyaan besar: apakah ini sekadar luapan emosi akibat patah hati, atau ada kemungkinan gangguan kejiwaan seperti erotomania?
Apa Itu Erotomania?
Mengutip Medical News Today, erotomania adalah gangguan delusi ketika seseorang memiliki keyakinan kuat bahwa orang lain — biasanya sosok yang dikagumi atau dianggap memiliki status tertentu — sebenarnya jatuh cinta kepadanya.
Dalam literatur psikologi, kondisi ini dikenal sebagai De Clérambault’s Syndrome. Penderitanya benar-benar percaya ada ikatan cinta mendalam, meskipun pada kenyataannya hubungan tersebut tidak pernah terjadi atau bahkan telah ditolak secara tegas.
Ciri-Ciri Erotomania yang Perlu Diketahui
Beberapa pola perilaku yang sering muncul pada penderita erotomania antara lain:
1. Delusi Persisten
Keyakinan kuat bahwa seseorang mencintai mereka, meski sudah ada bukti penolakan atau bantahan.
2. Membaca “Pesan Tersembunyi”
Tindakan biasa seperti senyum sopan atau percakapan singkat dianggap sebagai sinyal cinta rahasia.
3. Perilaku Obsesif
Upaya terus-menerus menghubungi target melalui telepon, media sosial, hingga penguntitan (stalking).
Dalam jurnal Psychopathology, disebutkan bahwa ketika delusi ini berbenturan dengan realita — misalnya penolakan keras — penderita bisa mengalami frustrasi ekstrem. Pada beberapa kasus, kondisi tersebut dapat memicu tindakan agresif atau kekerasan.
Batas Tipis Antara Cinta, Obsesi, dan Delusi
Kasus Mahasiswa UIN Suska Riau bacok teman memunculkan diskusi mengenai perbedaan antara obsesi cinta biasa dan delusi erotomanik.
Pada obsesi biasa, seseorang masih memahami realitas bahwa dirinya ditolak. Rasa sedih dan kecewa memang muncul, namun tidak sampai mengaburkan logika.
Sebaliknya, dalam erotomania, penolakan justru dianggap sebagai “ujian” atau cara korban menyembunyikan cintanya. Penderita merasa memiliki hak atas targetnya. Ketika realita tidak sesuai dengan keyakinan delusional tersebut, muncul potensi ledakan emosi yang berbahaya.
Namun demikian, penting ditekankan bahwa tidak semua tindakan kekerasan akibat cinta ditolak otomatis berarti pelaku mengalami erotomania.
Pentingnya Pemeriksaan Kejiwaan Profesional
Dalam kasus Mahasiswa UIN Suska Riau bacok teman, dugaan gangguan psikologis masih memerlukan evaluasi lebih lanjut. Erotomania adalah diagnosis medis kompleks yang hanya bisa ditegakkan melalui pemeriksaan oleh psikiater atau psikolog klinis.
Evaluasi biasanya melibatkan:
- Wawancara klinis mendalam
- Observasi perilaku
- Riwayat kesehatan mental
- Pemeriksaan kemungkinan gangguan kepribadian lain
Tanpa pemeriksaan formal, tidak tepat untuk langsung menyimpulkan adanya gangguan delusi tertentu.
Refleksi: Keamanan Kampus dan Kesehatan Mental
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa kesehatan mental mahasiswa perlu mendapat perhatian serius. Kampus bukan hanya tempat akademik, tetapi juga ruang sosial yang rentan konflik emosional.
Edukasi mengenai:
- Manajemen emosi
- Konseling psikologis
- Layanan pendampingan mahasiswa
menjadi langkah preventif yang perlu diperkuat untuk mencegah tragedi serupa.
Baca Juga : Mahasiswa UIN Suska Riau Bacok Teman usai Cinta Ditolak, Mungkinkah Erotomania?
Kasus Mahasiswa UIN Suska Riau bacok teman akibat cinta ditolak mengguncang dunia pendidikan. Meski muncul dugaan kemungkinan gangguan seperti erotomania, diagnosis tetap harus melalui pemeriksaan profesional.
Yang jelas, peristiwa ini menjadi alarm bahwa batas antara cinta, obsesi, dan delusi bisa sangat tipis ketika emosi tidak dikelola dengan sehat. Edukasi kesehatan mental dan sistem pendampingan yang kuat di lingkungan kampus menjadi kunci pencegahan ke depan.


