Di Tengah Reruntuhan Gaza, Omar Bangun Perpustakaan untuk Anak-anak dan Selamatkan Buku dari Api

APAAJA.NET Omar bangun perpustakaan untuk anak-anak Gaza saat wilayah itu masih dilanda kehancuran. Di tengah serangan yang terus terjadi, ia memilih menyelamatkan buku daripada membiarkannya hilang. Baginya, pendidikan adalah harapan terakhir yang tidak boleh padam.

Perpustakaan itu bukan bangunan megah dengan rak tinggi. Sebaliknya, semuanya bermula dari buku-buku pribadi yang ia bawa saat mengungsi. Bahkan, Omar tercatat telah mengungsi hingga 12 kali sambil tetap menjaga koleksi bukunya.

Ia menyebut, sejak hari pertama konflik, perpustakaan kecilnya selalu ikut berpindah. Karena itu, misi menyelamatkan buku menjadi bagian dari perjuangannya.

Berbulan-bulan Menyelamatkan Buku dari Perpustakaan Hancur

Serangan masih berlangsung. Namun, Omar tidak berhenti bergerak. Ia berkeliling dari satu perpustakaan hancur ke lokasi lain untuk memungut buku yang masih layak baca.

Salah satu lokasi pertama yang ia selamatkan adalah Perpustakaan Edward Said di Beit Lahia. Perpustakaan itu sebelumnya milik penulis Musab Abu Toha. Akan tetapi, bangunan tersebut hancur dan ditinggalkan.

Selain bekerja sendiri, Omar dibantu dua rekannya. Mereka membawa buku dalam tas dan gerobak keledai. Dengan cara sederhana itu, ratusan buku berhasil diamankan.

Saat Buku Berubah Jadi Bahan Bakar Api

Di sisi lain, pemandangan memilukan kerap ia saksikan. Di Perpustakaan Universitas Islam Gaza, warga mengambil buku untuk bahan bakar memasak.

Kondisi itu membuat Omar sedih. Namun, ia memahami situasi warga yang kesulitan mendapatkan gas dan kayu bakar. Oleh karena itu, ia tidak menyalahkan siapa pun.

Meski demikian, ia tetap menyelamatkan buku yang bisa diselamatkan. Bahkan, beberapa di antaranya berusia lebih dari 100 tahun.

Menurutnya, hilangnya perpustakaan sama dengan menghapus pengetahuan dan jiwa suatu bangsa. Karena alasan itu, ia terus berjuang menjaga sisa literasi yang ada.

Phoenix Library, Simbol Harapan Baru di Gaza

Perpustakaan sementara itu kini bernama Phoenix Library. Nama tersebut melambangkan kebangkitan dari kehancuran.

Saat ini, koleksinya mencakup novel sastra Rusia, buku pelajaran fisika dan kimia, hingga literatur Islam dari empat imam besar. Selain itu, tersedia juga novel populer seperti Harry Potter dan The Lord of the Rings.

Ke depan, Omar berencana mencetak lebih banyak buku. Ia juga ingin menyediakan buku anak-anak serta ruang khusus seni visual. Nantinya, karya seniman Gaza selama konflik akan dipamerkan di sana.

Baca Juga : Mahasiswa Palestina Lulus S1-S2 dari Unila, Tesis Soal Terbatasnya Listrik di Gaza

Dengan langkah kecil itu, Omar bangun perpustakaan untuk anak-anak Gaza sebagai simbol perlawanan melalui pendidikan. Di tengah reruntuhan, ia membuktikan bahwa harapan tetap bisa tumbuh.

Related Posts

PPG 2026 Dibuka! Ini Cara Daftar & Syarat Lengkap Penjaringan Guru Terbaru
  • April 26, 2026

APAAJA.NET – Program PPG 2026 dibuka kembali oleh pemerintah sebagai kesempatan emas bagi guru yang belum memiliki sertifikat pendidik. Program ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas tenaga pengajar sekaligus…

Read More

Continue reading
Jalur Mandiri UI 2026 Dibuka Mei! Ini 6 Jalur Favorit yang Wajib Kamu Tahu
  • April 26, 2026

APAAJA.NET – Jalur mandiri UI 2026 resmi dibuka mulai Mei untuk penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2026/2027. Melalui jalur mandiri UI, Universitas Indonesia memberikan berbagai opsi seleksi yang bisa dipilih…

Read More

Continue reading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *