
APAAJA.NET – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diumumkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani pada tahun 2025 menjadi perbincangan hangat di kalangan ekonom dan pemerintah. Dengan anggaran yang ditingkatkan menjadi Rp171 triliun, program ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Namun, analisis yang berbeda antara Sri Mulyani dan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mengenai dampak ekonomi dari MBG memunculkan pandangan yang menarik dan perlu dicermati.
Baca Juga: Pesantren Ramadhan SMP NU Al Fattah, Empat Amanat Penting
Proyeksi Sri Mulyani: MBG Akan Dorong PDB Sebesar 0,7%
Menteri Keuangan Sri Mulyani optimis bahwa program Makan Bergizi Gratis dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025. Menurutnya, tambahan anggaran MBG yang mencapai Rp171 triliun dapat meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 0,7%.
Sri Mulyani menilai bahwa program ini tidak hanya berfokus pada pemberian makan bergizi kepada masyarakat, tetapi juga akan menimbulkan dampak positif bagi sektor usaha kecil dan menengah (UKM). Dia berharap bahwa multiplier effect yang tercipta akan memberi kontribusi besar terhadap perekonomian lokal, di seluruh Indonesia. Dalam acara BRI Microfinance Outlook 2025, Sri Mulyani menyebutkan bahwa sekitar 185 ribu tenaga kerja akan terlibat dalam implementasi program ini, dan kemiskinan diperkirakan berkurang sebesar 0,19 poin persentase.
Pandangan Dewan Ekonomi Nasional (DEN): Dampak Ekonomi MBG Terbatas
Di sisi lain, Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Arief Anshory Yusuf, memberikan analisis yang berbeda mengenai dampak ekonomi dari program Makan Bergizi Gratis. Melalui analisis Input-Output dengan dua skenario, yaitu financing (pembiayaan) dan provision (penyediaan), Arief menilai bahwa dampak terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 tidak akan sebesar yang diperkirakan oleh Sri Mulyani.
Arief menyebutkan bahwa program MBG bersifat realokatif, artinya pembiayaan untuk program ini berasal dari realokasi anggaran yang ada, bukan penambahan anggaran baru. Akibatnya, dampaknya terhadap PDB hanya diperkirakan berkisar antara 0,01% hingga 0,26%. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan proyeksi Sri Mulyani yang mencapai 0,7%. Menurut Arief, sektor-sektor yang tidak terkait langsung dengan program MBG, seperti sektor jasa, kemungkinan akan mengalami kontraksi.
Fokus Program MBG: Investasi Sumber Daya Manusia dan Penurunan Kemiskinan
Meskipun program MBG diperkirakan tidak memberikan dampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi jangka pendek, Arief menggarisbawahi pentingnya program ini sebagai investasi sumber daya manusia (SDM). Dengan memastikan akses masyarakat miskin terhadap makanan bergizi, program ini diharapkan dapat menciptakan dampak jangka panjang yang lebih besar terhadap perekonomian.
Arief juga menjelaskan bahwa dalam jangka pendek, MBG berpotensi menciptakan antara 900 ribu hingga 1,9 juta lapangan kerja, terutama di sektor agrikultur, yang merupakan sektor dengan tingkat partisipasi yang tinggi dari masyarakat miskin. Program ini diharapkan dapat mengurangi tingkat kemiskinan Indonesia hingga 5,8% dari 9% yang ada saat ini, serta mengurangi ketimpangan pendapatan.
Kesimpulan: Perbedaan Perspektif dalam Dampak Ekonomi MBG
Meskipun proyeksi dampak ekonomi dari program Makan Bergizi Gratis berbeda antara Sri Mulyani dan Dewan Ekonomi Nasional (DEN), keduanya sepakat bahwa program ini akan memberi manfaat signifikan bagi masyarakat miskin. Sri Mulyani lebih fokus pada dampak langsung terhadap PDB, sedangkan Arief Anshory Yusuf menilai bahwa program MBG sebaiknya dipandang sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan SDM.
Kedua perspektif ini memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang dampak dari program MBG dan pentingnya merancang kebijakan ekonomi yang tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi jangka pendek, tetapi juga pada pemerataan kesejahteraan sosial dalam jangka panjang.
Dengan adanya program MBG, Indonesia memiliki peluang untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif, meskipun dampaknya terhadap PDB dalam jangka pendek mungkin lebih kecil dari yang diperkirakan.***