APAAJA.NET – Pemerintah Amerika Serikat mengambil langkah besar untuk menahan tekanan ekonomi di sektor pertanian. Subsidi Petani AS Rp 202,6 Triliun atau setara USD 12 miliar akan mulai dikucurkan pekan depan oleh United States Department of Agriculture (USDA).
Kebijakan ini diumumkan dalam forum tahunan di Arlington, Virginia, sebagai respons atas meningkatnya risiko kebangkrutan petani akibat tekanan harga, biaya input tinggi, dan ketidakpastian kebijakan perdagangan.
Mengapa Subsidi Petani AS Rp 202,6 Triliun Dikucurkan?
Tekanan berat membayangi ekonomi pertanian AS dalam beberapa tahun terakhir. Situasi semakin kompleks setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan kebijakan tarif besar-besaran era Donald Trump yang sebelumnya diberlakukan atas dasar keadaan darurat nasional.
Putusan tersebut, sebagaimana dilaporkan Reuters, dinilai memberi dampak luas terhadap ekonomi global, termasuk sektor pertanian AS.
Pendapatan Petani Terus Tertekan
USDA memperkirakan pendapatan bersih pertanian AS turun 0,7 persen tahun ini. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, kerugian petani disebut telah melampaui USD 30 miliar.
Meski pembayaran pemerintah hampir mendekati rekor, sektor pertanian masih sangat bergantung pada dukungan fiskal. Diperkirakan hampir 29 persen laba bersih produsen berasal dari pembayaran pemerintah.
Skema Farmer Bridge Assistance: Siapa yang Berhak?
Melalui program Farmer Bridge Assistance, USDA akan menyalurkan sekitar USD 11 miliar dalam bentuk pembayaran satu kali berbasis tarif per hektare.
19 Komoditas Prioritas
Bantuan diberikan kepada petani yang menanam salah satu dari 19 komoditas yang memenuhi syarat. Selain itu, USD 1 miliar lainnya dialokasikan bagi produsen tanaman khusus.
Menteri Pertanian AS, Brooke Rollins, menyatakan pendaftaran akan dibuka lebih cepat dari jadwal, yakni mulai Senin pekan depan.
Petani yang memenuhi syarat diperkirakan menerima pembayaran paling lambat 28 Februari, hanya enam hari setelah pendaftaran dibuka.
Tantangan di Balik Subsidi Raksasa Ini
Walaupun nilai Subsidi Petani AS Rp 202,6 Triliun terlihat besar, sejumlah ekonom menilai bantuan ini belum tentu cukup menutup seluruh kerugian.
Wakil Presiden Kebijakan Publik dan Analisis Ekonomi di American Farm Bureau Federation, John Newton, menyebut bantuan federal ini hanya menjadi penopang sementara.
Lonjakan Permohonan dan Keterbatasan SDM
USDA juga menghadapi tantangan internal. Pemangkasan pegawai federal sebelumnya, termasuk di kantor Badan Layanan Pertanian di pedesaan, berpotensi memperlambat proses layanan dan pencairan bantuan.
Hal ini memunculkan pertanyaan besar: apakah sistem siap menghadapi lonjakan permohonan?
Proyeksi Harga Komoditas 2026-2027
Untuk musim tanam 2026-2027, USDA memproyeksikan harga komoditas utama sedikit naik:
- Jagung: USD 4,20 per bushel
- Kedelai: USD 10,30 per bushel
- Gandum: USD 5,00 per bushel
Meski ada kenaikan sekitar 10 sen dibanding musim berjalan, harga tersebut masih lebih rendah dibanding periode puncak 2022/2023.
Apakah Subsidi Ini Cukup?
Subsidi Petani AS Rp 202,6 Triliun menjadi langkah darurat untuk menjembatani petani memasuki musim tanam berikutnya. Namun, banyak pihak menilai solusi jangka panjang tetap dibutuhkan, termasuk reformasi kebijakan pertanian dan perdagangan.
Baca Juga : Antisipasi Tantangan Ekonomi, Kementan AS Kucurkan Rp 202,6 T ke Petani
Dengan ketergantungan tinggi pada dukungan fiskal, sektor pertanian AS kini berada di persimpangan penting. Apakah bantuan ini benar-benar mampu menyelamatkan petani dari krisis berkepanjangan? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa musim ke depan.


