APAAJA.NET – Artis sekaligus ibu, Dea Ananda, membagikan pengalaman menghadapi anak kurang zat besi,emosional saat menghadapi fase anak GTM (Gerakan Tutup Mulut) atau picky eater. Meski merasa memahami teori makronutrien dan mikronutrien, praktik di lapangan ternyata jauh lebih menantang.
Ia mengaku stres ketika jadwal makan sudah diatur, tetapi sang anak tetap menolak makanan. Dalam kondisi tertekan, fokusnya hanya satu: yang penting anak mau makan, tanpa benar-benar memastikan kandungan gizinya cukup.
Situasi ini ternyata berdampak serius. Anak kurang zat besi menjadi salah satu penyebab pertumbuhan fisik yang sempat terhambat.
Pertumbuhan Anak Sempat Stuck, Ini Gejalanya
Dea menceritakan bahwa berat dan tinggi badan anaknya tidak bertambah dalam periode tertentu. Nafsu makan menurun, tubuh terlihat lemas, hingga akhirnya ia memutuskan konsultasi ke dokter anak dan dokter gizi.
Setelah menjalani pemeriksaan darah, diketahui anaknya mengalami kekurangan zat besi dan zinc.
Ciri Anak Kekurangan Zat Besi
Beberapa tanda umum yang perlu diwaspadai antara lain:
- Berat dan tinggi badan stagnan
- Anak tampak pucat dan lemas
- Mudah lelah
- Konsentrasi menurun
- Nafsu makan rendah
Kondisi ini dikenal sebagai defisiensi zat besi anak dan dapat berpengaruh pada tumbuh kembang secara menyeluruh.
Pentingnya Mikronutrien untuk Tumbuh Kembang
Spesialis gizi dr Juwalita Surapsari, MGizi, SpGK menjelaskan bahwa kebutuhan nutrisi anak sebenarnya bisa dipenuhi dari pola makan sehari-hari, asalkan orang tua cermat memilih menu.
Jangan Hanya Karbohidrat
Sarapan seperti roti dan selai cokelat memang praktis, tetapi kandungan utamanya hanya karbohidrat. Anak membutuhkan mikronutrien penting seperti:
- Zat besi
- Zinc
- Vitamin D
- DHA
- Omega-3
Sebagai alternatif, roti bisa diolah menjadi french toast dengan tambahan telur untuk meningkatkan kandungan protein dan zat besi.
Solusi Jika Asupan Harian Belum Cukup
Proses makan pada anak adalah perjalanan jangka panjang. Jika orang tua merasa asupan gizi dari makanan belum optimal, produk fortifikasi sesuai usia bisa menjadi solusi tambahan.
Susu pertumbuhan dengan kandungan zat besi dan mineral penting dapat membantu memenuhi kebutuhan makro dan mikronutrien, terutama pada anak yang sulit makan.
Namun, tetap disarankan berkonsultasi dengan dokter sebelum memberikan suplemen atau produk tambahan.
Baca Juga : Cerita Dea Ananda Hadapi Anak Kurang Zat Besi, Pertumbuhan Fisik Sempat Stuck
Kisah Dea Ananda menjadi pengingat bahwa anak kurang zat besi bukan masalah sepele. Dampaknya bisa membuat pertumbuhan fisik terhambat dan memengaruhi energi serta perkembangan anak.
Orang tua perlu lebih peka terhadap gejala kekurangan mikronutrien dan tidak hanya fokus pada kuantitas makanan, tetapi juga kualitas nutrisinya. Dengan pola makan seimbang dan pendampingan medis yang tepat, fase sulit ini bisa dilewati dengan baik.


