APAAJA.NET – Menkes Ingatkan Kebiasaan Buka Puasa yang Picu Lonjakan Gula Darah agar masyarakat lebih bijak dalam memilih menu berbuka. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menyoroti kebiasaan menyantap gorengan dan minuman manis secara berlebihan yang dapat menyebabkan kenaikan gula darah secara drastis setelah seharian berpuasa.
Ia bahkan melontarkan pertanyaan sederhana namun relevan, “Siapa di sini yang buka puasanya suka pakai gorengan?” Kebiasaan ini dinilai umum terjadi, terutama saat rasa lapar memuncak di waktu magrib.
Kenapa Gula Darah Mudah Naik Saat Buka Puasa?
Kondisi Tubuh Setelah Seharian Berpuasa
Setelah berpuasa, lambung dalam keadaan kosong dan kadar gula darah menurun. Tubuh memang membutuhkan asupan gula untuk memulihkan energi. Namun, pemilihan sumber gula menjadi kunci utama agar tidak terjadi lonjakan gula darah mendadak.
Menurut Menkes, konsumsi gula sederhana seperti sirup atau minuman manis dapat membuat kadar gula darah naik sangat cepat. Kondisi ini memaksa pankreas bekerja ekstra keras memproduksi insulin dalam jumlah besar.
Bahaya Lonjakan Gula Darah yang Terlalu Cepat
Lonjakan gula darah yang drastis bukan hanya membuat tubuh terasa lemas setelahnya, tetapi juga berisiko membebani pankreas dalam jangka panjang. Jika terjadi terus-menerus, kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan metabolisme.
Pilihan Menu Buka Puasa yang Lebih Sehat Menurut Menkes
Pilih Karbohidrat Kompleks
Sebagai alternatif, masyarakat disarankan memilih makanan dengan karbohidrat kompleks seperti:
- Singkong
- Jagung
- Kacang-kacangan
- Nasi merah
- Ubi
Karbohidrat kompleks diubah menjadi gula secara bertahap oleh tubuh, sehingga energi pulih perlahan tanpa membuat kadar gula melonjak tajam.
Batasi Gorengan dan Minuman Manis
Gorengan mengandung lemak tinggi yang bisa memperlambat pencernaan dan memperberat kerja lambung yang kosong. Sementara minuman manis tinggi gula sederhana mempercepat lonjakan glukosa dalam darah.
Kombinasi keduanya saat berbuka justru bisa membuat tubuh “kaget” setelah seharian beradaptasi dalam kondisi rendah gula.
Buka Puasa: Pilih yang Enak atau yang Sehat?
Di akhir pesannya, Menkes mengajak masyarakat untuk reflektif dalam menentukan pilihan menu berbuka. Apakah ingin sekadar memuaskan selera sesaat, atau menjaga kesehatan jangka panjang?
Momentum Ramadan seharusnya menjadi kesempatan memperbaiki pola makan. Memilih sumber karbohidrat kompleks dan membatasi gula sederhana dapat membantu menjaga kestabilan gula darah serta meringankan kerja pankreas.
Bijak memilih menu berbuka bukan berarti menghilangkan kenikmatan, tetapi menyeimbangkannya dengan kesadaran kesehatan.
Jadi, saat waktu magrib tiba, Anda mau buka puasa yang mana: yang enak sesaat atau yang sehat untuk jangka panjang?
Baca Juga : Menkes Ingatkan Kebiasaan Buka Puasa yang Picu Lonjakan Gula Darah
Imbauan Menkes Ingatkan Kebiasaan Buka Puasa yang Picu Lonjakan Gula Darah menjadi pengingat penting bagi masyarakat agar lebih cermat memilih menu berbuka. Konsumsi gorengan dan minuman manis secara berlebihan setelah seharian berpuasa dapat menyebabkan lonjakan gula darah yang membebani kerja pankreas.
Sebaliknya, memilih sumber karbohidrat kompleks seperti singkong, jagung, atau kacang-kacangan membantu tubuh memulihkan energi secara bertahap tanpa membuat kadar gula melonjak drastis. Pola berbuka yang lebih sehat bukan hanya menjaga stamina selama Ramadan, tetapi juga melindungi kesehatan jangka panjang.
Pada akhirnya, keputusan ada di tangan masing-masing: berbuka sekadar mengikuti kebiasaan, atau mulai membangun pola makan yang lebih bijak dan sehat.


