APAAJA.NET – Memasuki musim hujan, risiko penularan demam dengue kembali meningkat seiring bertambahnya tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti di lingkungan permukiman. Pola ini terus berulang setiap tahun dan menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.
Ketua Umum Pengurus Pusat PAPDI, Dr. dr. Eka Ginanjar, SpPD, K-KV, menegaskan bahwa dengue masih menjadi masalah kesehatan nyata di Indonesia. Pencegahan dinilai jauh lebih penting dibandingkan penanganan saat kasus sudah terjadi.
“Pencegahan harus menjadi fokus utama, bukan hanya ketika kasus sudah terjadi. Upaya edukasi, kewaspadaan terhadap gejala, serta perlindungan yang menyeluruh perlu diperkuat secara konsisten,” ujarnya dalam diskusi media PAPDI di Jakarta, Selasa (4/2/2026).
Baca Juga : Tank 500 Diesel Muncul Diam-Diam di IIMS 2026, Sinyal Kuat GWM Siap Guncang Pasar SUV Bongsor Indonesia!
Pencegahan Dengue Harus Jadi Prioritas Bersama
Terapkan 3M Plus Secara Konsisten
Upaya pencegahan demam dengue dapat dilakukan dengan menggiatkan 3M Plus, yakni menguras dan menutup tempat penampungan air, mendaur ulang barang bekas, serta berbagai langkah tambahan seperti menggunakan kelambu saat tidur, menjaga kebersihan rumah, meningkatkan daya tahan tubuh, dan menghindari gigitan nyamuk.
Namun demikian, langkah pencegahan lingkungan saja dinilai belum cukup jika tidak disertai perlindungan diri yang menyeluruh dan berkelanjutan.
Jangan Anggap Remeh Gejala Awal Dengue
Dari sisi klinis, Dr. dr. Adityo Susilo, SpPD, K-P.T.I, mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap gejala awal demam dengue yang kerap disalahartikan sebagai demam biasa.
Baca Juga : Pakar Kesehatan Peringatkan! 13 Dampak Negatif Sering Begadang yang Diam-Diam Merusak Fisik dan Mental
“Dengue dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia, tempat tinggal, maupun gaya hidup. Penyakit ini sering kali diawali dengan demam yang tampak ringan, tetapi bisa berkembang cepat menjadi kondisi berbahaya,” jelasnya.
Kenali Tanda Bahaya Dengue
Masyarakat perlu segera mencari pertolongan medis apabila mengalami demam tinggi disertai nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, lemas berat, atau penurunan kesadaran. Keterlambatan mengenali tanda bahaya dapat berujung fatal.
Selain itu, seseorang dapat terinfeksi dengue lebih dari satu kali, dan infeksi berikutnya berisiko menimbulkan kondisi yang lebih berat.
Vaksinasi Dengue, Perlindungan Jangka Panjang
Hingga saat ini, belum tersedia obat yang secara spesifik menyembuhkan dengue. Oleh karena itu, pencegahan menjadi langkah paling krusial, salah satunya melalui vaksin dengue yang dirancang untuk membentuk kekebalan jangka panjang tanpa menyebabkan penyakit.
Baca Juga : HP Flagship POCO F8 Pro & F8 Ultra Resmi di Indonesia: Audio Bose, Snapdragon 8 Elite, Harga Bikin Kaget!
Sejalan dengan persetujuan terbaru BPOM, imunisasi dengue direkomendasikan untuk anak usia 4 hingga 18 tahun.
“Data Kementerian Kesehatan menunjukkan angka mortalitas dengue tertinggi berada pada kelompok usia 5–14 tahun. Dengan demikian, imunisasi dapat memberikan perlindungan optimal pada kelompok paling rentan,” ujar Ketua Satgas Imunisasi Anak IDAI, Prof. Hartono Gunardi, Sp.A.
Beban Dengue terhadap Sistem Kesehatan Nasional
Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menyoroti dampak besar dengue terhadap sistem kesehatan nasional. Sepanjang 2024, lebih dari satu juta kasus rawat inap akibat dengue ditanggung BPJS Kesehatan dengan total biaya hampir Rp3 triliun. Angka tersebut belum mencakup beban emosional keluarga serta risiko yang muncul ketika terjadi wabah berskala besar.
Baca Juga : Prabowo Suntik Modal Triliunan ke KAI, INKA, Pelni, hingga SMF: Ini Rincian Lengkapnya!
Kesadaran dan Perlindungan Dini Jadi Kunci
Dengan datangnya musim hujan, kewaspadaan terhadap demam dengue harus ditingkatkan. Kombinasi pengendalian lingkungan, edukasi masyarakat, deteksi dini gejala, serta vaksinasi dinilai menjadi strategi penting untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat dengue di Indonesia.



