APAAJA.NET – Di balik senyum yang tampak baik-baik saja, banyak orang menyimpan kelelahan yang tidak terlihat. Aktivitas yang padat, tekanan hidup, tuntutan akademik, tuntutan pekerjaan. tuntutan sosial, dan masalah pribadi seringkali membuat seseorang lelah secara mental. Namun, karena tidak tampak secara fisik, kelelahan ini dianggap sepele dan di abaikan oleh diri sendiri maupun orang lain.
Senyum yang Menyembunyikan Kelelahan Mental
Dari banyaknya hal yang terjadi, seseorang mengenakan topeng kebahagiaan atau kepuasan untuk menutupi perasaan yang sebenarnya. Mereka lebih memilih diam karena mengira lelah secara mental adalah hal yang biasa. Justru kondisi seperti ini dapat berdampak besar bagi kesehatan mental seseorang.
Ketika Kesehatan Mental Dianggap Sepele
Masyarakat selalu menilai kesehatan seseorang hanya dari kondisi fisiknya. Selama tubuh terlihat sehat, seseorang dianggap baik-baik saja. Padahal, masalah kesehatan mental merupakan hal yang tak terlihat. Perubahan suasana hati, sulit untuk konsentrasi, perasaan sedih atau cemas secara terus menerus, dan perubahan pola makan sering dianggap wajar, padahal bisa menjadi tanda-tanda gangguan mental.
Baca Juga: Fenomena Running di Kalangan Anak Muda: Sehat atau Sekadar Tren?
Dampak Kesehatan Mental yang Diabaikan
Masalah kesehatan mental yang tak terlihat kerap terjadi dikarenakan stigma sosial membuat orang enggan mengakuinya. Masyarakat seringkali menganggapnya aib sehingga penderita cenderung untuk menyimpannya sendiri dan tidak bercerita dengan orang lain.
Selain itu, penderita juga takut dianggap lemah oleh orang-orang sekitar. Akibatnya, mereka akan mengalami masalah mental yang berkelanjutan.
Kesehatan mental yang diabaikan akan memicu terjadinya gangguan tidur (insomnia), sulit berkomunikasi, hingga depresi. Jika tidak langsung ditangani, kesehatan mental akan menjadi masalah yang lebih serius.
Baca Juga: Sekolah dengan Fasilitas Minim, Mampukah Mencetak Prestasi?
Menjaga Kesehatan Mental Adalah Bentuk Kepedulian Diri
Menjaga kesehatan mental sama dengan menjaga kesehatan fisik. Belajar mengatur waktu, berani berbicara tentang perasaannya, serta berani meminta bantuan kepada orang lain. Kita perlu mengubah pemikiran meminta bantuan kepada orang lain bukanlah lemah, tetapi bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.
Senyum Boleh, Tapi Jangan Menyembunyikan Luka
Pada akhirnya, senyum memang bisa menjadi topeng untuk menutupi luka. Penyakit mental mengingatkan kita bahwa kesehatan seseorang tidak hanya tampak dari luar. Dengan adanya kepedulian, dukungan, dan akses pada pertolongan profesional, kesehatan mental bisa diatasi dan kualitas hidup bisa kembali membaik.
Baca Juga: Laptop di Sekolah Berbasis Pondok Pesantren: Antara Kebutuhan Belajar dan Kekhawatiran Etika


