
Oleh: Ali Arifin
APAAJA.NET – Jika salah seorang guru besar UIN Walisono Semarang, Prof Ahmad Rofiq menjelaskan dengan detail dan serius mengapa kita perlu ber-Halal bi Halal? Penulis hanya ingin mengajak pembaca untuk refresh sejenak tentang asal mula kata halal bi Halal.
DISCLAIMER: Cerita berikut ini hanya karangan saja. Jadi cerita berikut ini hanya untuk candaan. Tujuannya agar pembaca bisa lebih ceria saat Lebaran di rumah bersama keluarga tercinta. Jadi jangan percaya tulisan berikut ini, percayalah hanya kepada Allah SWT.
Kita mulai yah…
Syadan, tersebutlah sebuah keluarga yang terdiri atas suami, istri, dan seorang keponakan. Pasangan suami istri itu belum dikaruniai anak.
Kebetulan salah satu keponakannya sebut saja namanya, Amel, kuliah di sebuah PT yang kampusnya tak jauh dari rumah Om atau paman dan bibi-nya itu.
“Amel, besok kan Lebaran. Om dan Bibi mau ziarah ke makam leluhur. Siapa tahu setelah sholat Ied besok ada yang berlebaran ke rumah kita.”
“Ya Bi…”
“Oh ya, Mel, Bibi minta tolong ya. Amel ke pasar beli jajan pasar secukupnya saja, soalnya kalau beli roti biasanya pada kurang suka. Tetangga suka jajan pasar. Om dan Bibi berangkat dulu ya. Ini Uangnya.”
“Ya, Bi, saya tak mandi dulu, baru ke pasar,” kata Amel.
A few hours later…
Amel sudah pulang dari pasar, dia kemudian menuju ke mesin cuci untuk mencuci pakaiannya.
Om dan Bibinya tak lama kemudian juga pulang dari ziarah makam leluhur.
Bibinya langsung menuju ruang makan dan mendapati meja makannya penuh dengan jajan pasar.
Bibinya heran dengan uang segitu kok Amel bisa membeli jajan pasar demikian banyaknya.
Lalu bertanyalah dia pada Amel yang sedang di belakang rumah menjemur pakaiannya dengan setengah berteriak.
“Mel! Amel! ini jajan pasar kok segini banyaknya? Mana cukup uang dari Bibi tadi? Halal nggak nih?” tanya Bibi Amel.
Amel, karena dari lokasi menjemur pakaian yang jaraknya agak jauh dari ruang makan, juga dengan setengah berteriak menjawab, “Iya itu Bi. Amel beli dari uang yang dikasih Bibi. Halal Bi Halal,” kata Amel meyakinkan Bibinya.
Nah, kata-kata Amel yang mengatakan : “Halal Bi Halal” itu didengar oleh para tetangga. Mereka kemudian berfikir, oh…kalau Lebaran itu berarti “Halal Bi Halal”.
Sejak saat itu kalimat “Halal Bi Halal” menjadi viral sampai sekarang, xixixixi…
Pembaca yang budiman. Jangan marah ya… kan sudah tak kasih kasih DISCLAIMER. Maafin saya ya…Yuk kita ber-Halal Bi Halal.***
*)Ali Arifin, apaaja.net