Redaksi apaaja.net mengucapkan:
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 H, Mohon Maaf Lahir Batin
APAAJA.NET– Hari ini kita semua diwisuda. Setelah mengikuti kuliah pengendalian hawa nafsu sebulan penuh.
Bukan karena tidak ada makanan dan minuman, bukan tidak punya uang untuk jajan. Tetapi sebagai ujian manusia beriman.
Luluskah kita dari ujian yang berat ini? Agar lulus ujian ini dengan nilai yang tinggi, maka tidak hanya menahan lapar, dahaga dan seks, tetapi ada beberapa larangan yang harus dihindari agar tidak merusak nilai ujian.
Menurut Hadits Nabi saw, ada 5 hal yang bisa membatalkan pahala orang berpuasa, yaitu ghibah (membicarakan aib orang lain), namimah (mengadu domba), berbohong, melihat dengan syahwat, dan sumpah palsu (HR Ad-Dailami).
Ujian juga harus dijalani dengan ikhlas, sepenuh hati, lillahi ta’ala, dan bukan karena riya’ (pamer) dan takabbur (sombong). Untuk menambah nilai ujian, kita juga dihimbau untuk tarawih, tadarus, qiyamullail. Di akhir ujian ramadhan kita juga wajib menunaikan zakat fitrah, zakat mal, dan memperbanyak sodaqah.
Gelar kita al Fitri
Hari ini insyaAllah kita sudah lulus semua mata ujian Ramadhan. Berbagai rintangan dan pantangan sudah kita lalui dengan baik.
Hari ini kita diwisuda dan mendapatkan gelar al Fitri. Gelar yang lebih tinggi dari sekedar sarjana hukum, sarjana ekonomi, gelar master s2, atau gelar doktor lulusan s3 sekalipun.
Gelar al fitri ini pantas disematkan pada pribadi-pribadi yang kembali suci setelah kerak dosa-dosanya selama 11 bulan dibakar oleh api ramadhan. Si Fitri telah kembali kewatak aslinya, putih bersih, sebagaimana bayi yang baru dilahirkan. Nabi saw bersabda :
“Allah ‘Azza wajalla mewajibkan puasa Ramadhan dan aku menyunahkan shalat malam harinya. Barangsiapa berpuasa dan shalat malam dengan mengharap pahala (keridhoan) Allah, maka dia keluar dari dosanya seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya.” (Musnad Ahamd no. 1660, Sunan An-Nasa’i no. 2210, Ibnu Majah no. 1328)
Nabi saw juga bersabda dalam riwayat Muslim, “Kullu mauludin yuladu ‘alal fitrah” (setiap bayi lahir dalam keadaan suci (Islam). Kesucian ini kemudian ternoda oleh perilaku dosa dan maksiat, sehingga menjadi keruh dan hitam, tetapi kemudian dicuci dan dibakar oleh ramadhan, sehingga kembali putih dan bersih.
Idul fitri ini adalah momentum wisuda yang ditunggu-tunggu, hari yang indah, penuh kebahagiaan dan kesenangan, hari pertemuan dan silaturrahmi, hari yang penuh rahmat dan ampunan, hari yang penuh berkah, hari dimana kita dilahirkan kembali sebagai manusia yang fitri, putih bersih tanpa dosa tanpa goresan, setelah sebulan lamanya kita menjalankan ibadah puasa Ramadhan dengan penuh hidmat, imanan wahtisaban.
Ramadan secara harfiyah artinya adalah membakar, yaitu membakar dosa-dosa kita. Maka doa yang selalu kita ucapkan ketika sedang berjabat tangan halal bil halal adalah “taqabbalallahu minal aidin wal faizin” (semoga Allah berkenan menerima ibadah kita, dan semoga kita termasuk orang-orang yang kembali bersih dan beruntung).
Makna lebaran
Hari wisuda al fitri ini juga disebut lebaran, atau “bodo/bakdo”. Artinya lebar atau selesai, yaitu selesai puasa bulan ramadhan. Selesai ngeker/imsak dari makan minum dan dari semua yang membatalkan puasa, hari ini bahkan diharamkan puasa.
Lebar dalam bahasa Jawa dekat artinya dengan luas atau jembar, yaitu hati yang lapang, lembut dan pemaaf. Dekat juga dengan luber, yaitu rizqinya melimpah untuk menyantuni fakir miskin dan orang lain. Labur, yaitu setelah dilabur/dicat perilakunya menjadi indah sebagai pancaran akhlaqul karimah.
Hari wisuda ini disebut yaumus sa’id yaumus surur yaumul laiq yaumul maghfur. Yaumus sa’id, yaitu hari yang penuh dengan kebahagiaan.
Kita sekarang ini diliputi kebahagiaan karena kita telah berhasil menjadi pemenang dalam pertempuran melawan hawa nafsu, jihadun nafsi, jihad akbar.
Kita telah lahir kembali menjadi manusia yang baru, dengan hati yang baru, hati yang lemah lembut, penuh kasih sayang, hati yang selalu berdzikir, dan akal yang selalu berfikir positif untuk kebaikan dan kemajuan hidup sesama.
Yaumus surur, artinya hari yang penuh kesenangan dan kegembiraan, hari ini kita semua mengenakan pakaian yang baru, model terbaru, berwarna warni, parfum yang wangi.
Di rumah juga tersedia masakan berbagai menu, toples-toples penuh kue tertata rapi di meja tamu, untuk menjamu siapa saja yang bertamu.
Hari ini semua wajah berseri, tersenyum ramah, tiada dendam dan dengki, tiada permusuhan dan iri hati, semua merasa bersalah, rendah hati, dan saling memaafkan.
Setiap orang menyediakan berbagai menu, kue dan makanan, bukan untuk disimpan, tetapi ditawarkan bagi siapa saja yang mau makan, semakin banyak dimakan akan semakin membahagiakan.
Hari ini juga disebut yaumul laiq, artinya hari pertemuan. Kita menyaksikan ratusan juta orang melalukan mudik.
Tahun ini diperkirakan jumlah pemudik mencapai 137,97 juta orang dengan putaran uang mencapai Rp157,3 triliun.
Mereka rela menabung uang, berkorban waktu, tenaga, dan bahkan menanggung resiko kecelakaan di jalan, demi satu tujuan, bisa pulang ke kampung halaman.
Hari ini adalah hari pertemuan sanak saudara dan kawan, hari melepas rindu yang lama terpendam, hari silaturrahmi, merajut kesetiakawanan dan persaudaraan.
Maka lahirlah budaya halal bi halal yang sangat menyehatkan.
Hari ini adalah yaumul maghfur, hari pengampunan dari Allah swt. Sebagaimana sabda Nabi saw : Man shoma ramadhana imanan wah tisaban ghufira lahu ma taqaddama min dzanbihi wama ta’akhkhar. (barang siapa berpuasa ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang).
Suasana idul fitri, inilah barangkali sedikit dari gambaran kehidupan surgawi, yang kita nantikan di akhirat nanti, kehidupan yang penuh kesenangan dan kebahagiaan, kehidupan yang penuh kenikmatan dan kasih sayang, tidak ada kebencian, semua saling memaafkan dan tidak ada dendam, semua orang berebut kebajikan, Semua orang mengaku salah dan berebut saling memaafkan.
Al Fitri harus tetap melekat
Gelar al fitri ini harus tetap melekat pada diri kita. Kebiasaan-kebiasaan baik dibulan Ramadhan dan idul fitri ini harus kita teruskan dihari-hari ke depan.
Hati fitri yang lembut, yang pemaaf, hati yang selalu bersyukur, sabar, tawakkal, dan qanaah, harus tetap dipelihara. Puasa kita sebulan kemaren harus mampu menumbuhkan jiwa yang peduli kepada sesama.
Hasil puasa adalah tumbuh rasa empati, turut merasakan penderitaan orang lain, dan sudi mengulurkan bantuan. Karena masih banyak orang miskin disekitar kita yang kesulitan makan.
Masih banyak anak-anak yang tidak memiliki biaya untuk sekolah dan belajar al Qur’an. Masih banyak anak-anak yatim yang terancam tidak memiliki masa depan. Bulan syawal adalah bulan peningkatan.
Syawal artinya adalah adanya peningkatan diri menjadi pribadi yang lebih baik, mejadi pribadi yang mukminin, muttaqin, dan muhsinin. Iman semakin kuat, taqwa meningkat, dihiasi dengan akhlaq yang hasanat.
Semoga Idul Fitri ini kita lahir manjadi manusia fitri, dengan hati yang baru, dengan semangat yang baru, hubungan baru yang lebih erat bersatu, untuk menyongsong masa depan baru, yang penuh dengan kebahagiaan dan kemulyaan. Amin.
Disampaikan pada Khutbah Idul Fitri 1446/31 Maret 2025 di Masjid Al Muqarrabin Bukit Permata Puri Ngaliyan Semarang.
*)Prof. Dr. H. Nur Khoirin YD, MAg, Guru Besar Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo, Advokat, Mediator bersertifikat, Ketua BP4 Jawa Tengah, Ketua Nazhir Wakaf Uang BWI Jawa Tengah, Wakil Sekretaris I Masjid Agung Jawa Tengah, Ketua Bidang Remaja dan Kaderisasi Masjid Raya Baiturrahman, Komisi Hukum dan HAM MUI Jawa Tengah, dll. Tnggal di Jl. Tugulapangan H.40 Tambakaji Ngaliyan Semarang.