Qasidah burdah Wujud Cinta dan Kerinduan Imam Bushiri Kepada Rasulullah SAW

APAAJA.NET – Qasidah Burdah merupakan wujud kerinduan, pujian, dan permohonan syafa’at Imam Syarafuddin Abu ‘Abdullah Muhammad ibn Sa’id ibn Hammad ibn Muhsin ibn ‘Abdullah ash-Shanhaji al-Bushiri al-Mishri atau yang masyhur dengan nama Imam Al-Bushiri (Pengarang Maulid Burdah) dalam mengabadikan rasa cinta dan penghormatannya kepada Baginda Rosul Muhammad SAW. Qasidah burdah merupakan bentuk cinta Imam Bushiri kepada Rasulullah SAW.

“Bukan sekedar syair cinta biasa seperti orang-orang yang dimabuk cinta, melainkan cinta yang ditujukan kepada Rasulullah SAW. Tidak ada yang bisa mengimbangi ke- sakralan qasidah-qasidah Burdah” Dawuh DR.KH. Fadlolan Musyaffa’, Lc., MA. dalam pembukaan ngaji kitab Qasidah Burdah, Ramadhan 1446 H.

Imam Al-Bushiri lahir di Dalas, sebuah wilayah Bahansa, dataran tinggi Mesir, pada tahun 608 H/1212 M dan tumbuh di Bushir. Imam al-Bushiri berasal dari keturunan kabilah Bani Habnun, Maghrib (Maroko).

Nisbat atau sebutan al-Bushiri merunjuk pada sebuah daerah di Mesir bernama Bushair, salah satu daerah kekuasaan Bani Suwaif, tempat asal sang Ibunda.

Imam al-Bushiri hijrah ke Kairo, dimana disana Imam Bushiri belajar gramatikal arab, sastra dan menghafalkan al-Qur’an semenjak usia belia.

Imam Bushiri menulis syair burdah atas perintah Rasulullah yang datang ke mimpi beliau. Beliau menuliskan 160 bait (sajak) yang terbagi menjadi 10 fashl yang berisikan pujian, shalawat, ungkapan cinta, kerinduan, dan penghormatan kepada Rasulullah SAW. yang juga menceritakan tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW, termasuk kelahiran, mukjizat, perjalanan Isra’ Mi’raj, dan perjuangan Nabi Saw dalam menyebarkan agama Islam.

Nama “Burdah” muncul setelah Imam Bushiri mendapat cobaan diserang penyakit sehingga separuh tubuhnya lumpuh (faalij), dan beliau tak berhenti berdoa sembari mencucurkan air mata mengharapkan kesembuhan dari Allah SWT. Usai menyusun syair tersebut, Imam Bushiri kembali bermimpi bertemu dengan Rasulullah. Dalam mimpi kedua itu, Rasulullah menyelimuti Imam Bushiri dengan burdah (sorban). Ketika terbangun, sembuhlah Imam Bushiri dari sakit lumpuh yang diderita dan mampu berdiri seperti sediakala.

Diceritakan oleh Habib Husein bin Mohammad al Habsyi, seorang ulama yang biasa memimpin majelis untuk mengamalkan dalail khairat bahwa Habib Husein bermimpi bertemu dengan Rasulullah Saw, Rasul memerintahkan untuk membaca qasidah Burdah di majelis itu. Dan Rasulullah Saw berkata bahwa membaca qosidah Burdah 1 kali lebih utama daripada membaca dalail khairat 70 kali.

Salah satu dari sekian banyak keberkahan dan keutamaan membaca qosidah Burdah selain menyembuhkan penyakit, membacanya adalah bentuk ibadah, mendekatkan diri kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, serta memohon syafaat di hari kiamat. Qasidah Burdah juga sering dijadikan wasilah (perantara) dalam berdoa agar dipenuhi segala kebutuhan dan memohon pertolongan kepada Allah SWT.

Imam al-Bushiri wafat pada tahun 694 H/1294 M dalam usia 87 tahun dan dimakamkan di dekat makam Syaikh Abil Abbas al-Mursi (Guru Imam Bushiri, dan termasuk ulama yang dikenal sebagai wali qutb) di Iskandaria, Mesir.

الفَضْلُ الْأَوَّلُ
فِي الْغَزَلِ وَشَكْوَى الْغَرَامِ
(Bercumbu dan Pengaduan Cinta)

مَوْلَايَ صَلِّ وَسَلَّمْ دَائِمًا أَبَدًا * عَلَى حَبِيْبِكَ خَيْرِ الْخَلْقِ كُلِهِم

“Wahai Tuhanku, limpahkanlah selalu shalawat dan salam atas kekasih-Mu yang terbaik diantara seluruh makhluk yang ada”

أَمِنْ تَذَكُرِ جِيْرَانِ بِذِي سَلَمِ * مزَجْتَ دَمْعًا جَرَى مِنْ مُقْلَةٍ بِدَمِ

“Apakah karena mengingat para kekasih di dzi salam (lembah diantara Makkah dan Madinah). Engkau campurkan air mata yang mengalir dari pelupuk dengan darah duka.”

Kata dicampur darah duka adalah menggambarkan betapa derasnya tangisan sang penyair.

أَمْ هَبَّتِ الرِّيحُ مِنْ تِلْقَاءِ كَاظِمَةٍ * وَأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِي الظَّلْمَٓاءِ مِنْ إِضَمِ

_”Ataukah karena hembusan angin yang datang dari arah Kadhimah, yang menyebabkan engkau berkhayal, seolah-olah hembusan angin itu membawa aroma wangi kekasihmu? Ataukah karena kilauan kilat pada malam hari yang gelap gulita di daerah Idham yang menyebabkan engkau membayangkan rumahnya.”

Syair ini mengisahkan Muhammad bin Said al Bushiri yang menunjukkan bagaimana besar cintanya kepada Nabi Muhammad saw di mana beliau merenungkan penyebab kesedihannya, apakah karena kerinduan kepada orang-orang yang dicintainya karena Allah, atau karena pengaruh alam yang mengingatkannya akan kebesaran Allah dan kefanaan dunia. Syair ini mengajak kita untuk merenungkan makna kehidupan, untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan sepenuh hati.

فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ اكْفُفَا هَمْنَا * وَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهَمِ

Mengapa dengan kedua air mata mu tetap berlinang padahal engkau telah mengatakan “berhentilah untuk menangis” dan mengapa dengan hatimu tetap gelisah padahal engkau sudah mengatakan “sadarlah”

Syair ini menggambarkan bahwa imam Bushiri itu seorang yang kalah dengan cinta nya sendiri. Bahkan beliau tidak mampu membendung air mata yang mengalir deras meski diminta untuk berhenti, dan bukankah hal tersebut sudah menjadi saksi betapa nyata cinta beliau sangatlah amat besar.

أَيَحْسَبُ الصَّبُّ أَنَّ الْحُبَّ مِنْكَتِمُ * مَا بَيْنَ مُنْسَجِمٍ مِنْهُ وَمُضْطَرِم

Apakah sang kekasih mengira bahwa bisa menyembunyikan cintanya, Diantara air mata yang mengucur dan hati yang bergelora.

Syair ini mengisahkan bahwa seorang yang sedang dimabuk cinta apakah bisa menyembunyikan cintanya di antara tangis dan hati yang membara karena hebatnya cinta yang beliau alami? Jika demikian halnya, maka mengingkari cintanya, adalah sebuah kesalahan yang sangat nyata.

لَوْلَا الْهَوَى لَمْ تُرِقْ دَمْعًا عَلَى طَلَلٍ * وَلَا أَرِقْتَ لِذِكْرِ الْبَانِ وَالْعَلَمِ

“Jika bukan karena cinta takkan kau tangisi puing-puing rumahnya, Dan takkan pula kau bergadang untuk mengingat pohon Ban dan gunung yang kau rindu.”

فَكَيْفَ تُنْكِرُ حُبًّا بَعْدَ مَا شَهِدَتْ * بِهِ عَلَيْكَ عُدُولُ الدَّمْعِ وَالسَّقَمِ

“Dapatkah engkau pungkiri cintamu, sedangkan air mata dan derita amat sengsara telah bersaksi atas cintamu dengan jujur tanpa dusta.”

Syair ini menggambarkan bahwa ” bagaimana mungkin engkau bisa mengingkari cinta yang telah nyata yang sudah dibuktikan oleh saksi yang adil dan jujur, yakni cucuran air mata dan derita. Maka, oleh karna itu tidak perlu lagi engkau mengingkari cintamu sendiri.”

وَأَثْبَتَ الْوَجْدُ خَطَيْ عَبْرَةٍ وَضَنًى * مِثْلَ الْبَهَارِ عَلَى خَدَّيْكَ وَالْعَنَمِ

“Kesedihanmu menimbulkan dua garis tangis di pipimu dan kurus lemah, bagaikan bunga kuning di kedua pipi dan mawar merah.”

Syair ini menggambarkan bahwa Bagaimana kau dapat mengingkari cintamu, padahal begitu nyata dua tanda di kedua pipimu? pucatnya wajahmu yang bagaikan mawar kuning, dan merahnya air matamu yang bagaikan mawar merah”.

نَعَمْ سَرَى طَيْفٌ مَنْ أَهْوَى فَأَرَّقَنِي * وَالْحُبُّ يَعْتَرِضُ اللَّذَاتِ بِالْأَلِمِ

“Memang benar bayangan orang yang kucintai selalu terlintas di dalam mimpiku hingga membuat ku terjaga, cintaku menghalangiku dari berbagai bentuk kenikmatan karena rasa sakit yang ku derita.” (Lintang Angguningtyas)

والله اعلم بالصواب

***

Related Posts

Kesalahan Memaknai Syukur Dapat Terjebak Zona Nyaman
  • April 3, 2025

APAAJA.NET – Syukur sering dianggap sebagai salah satu sikap hidup yang bisa mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan. Namun, tanpa disadari, pemahaman yang keliru tentang syukur justru bisa menjadi jebakan yang membuat…

Read More

Continue reading
Tetap Abadi: Menjaga Semangat Ibadah Setelah Ramadhan
  • April 2, 2025

APAAJA.NET – Ramadhan telah meninggalkan kita, tetapi semangatnya tetap hidup dalam diri kita. Bulan yang penuh berkah ini bukan hanya sekadar ritual tahunan, tetapi juga menjadi madrasah kehidupan yang mengajarkan…

Read More

Continue reading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *