Ternyata Ini Asal Mula Kalimat Halal Bi Halal

Dr. KH Fadlolan Musyaffa Lc.MA pendiri dan pengasuh PP Fadhlul Fadhlan Semarang berserta istri, Nyai Fenty Hidayah SPdI yang juga pendiri dan pengasuh PP Fadhlul Fadhlan Semarang

Oleh: Ali Arifin

APAAJA.NET – Sejarah menunjukkan bahwa tradisi Halal Bi Halal , adalah khas Indonesia. Di Timur Tengah tidak ditemukan tradisi Halal Bi Halal.

Sabab wurudnya Halal Bi Halal atau HBH, adalah fatwa KH Wahab Hasbullah, terhadap permohonan fatwa Bung Karno, Presiden Pertama RI, ketika menghadapi konflik antarpemimpin partai politik, yang sangat tidak mudah untuk didamaikan, ketika itu.

Substansi Halal bi Halal adalah agar antara sesama manusia, sesama pemimpin umat, sesama pemimpin partai politik, bisa saling memaafkan.

Karena saling memaafkan antar sesama manusia adalah ajaran mendasar agar hubungan dan komunikasi sesama manusia berjalan dengan baik, dan menguatkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Rasulullah saw menegaskan: “Tidaklah dari dua orang Islam yang berjumpa maka bermushafahah kecuali diampuni (dosa) keduanya sebelum keduanya berpisah” (Riwayat Abu Dawud, Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Nah, narasi di atas adalah cerita yang sebenarnya terkait kalimat Halal Bi Halal. Bahkan, dalam sebuah tulisan seorang guru besar UIN Walisono Semarang, Prof Ahmad Rofiq menjelaskan dengan detail dan serius mengapa kita perlu ber-Halal bi Halal?

Tapi kali ini, penulis hanya ingin mengajak pembaca untuk refresh sejenak tentang asal mula kata halal bi Halal versi guyonan artinya, sekadar untuk melepas urat yang kaku akibat lama dalam perjalanan mudik ke kampung halaman.

DISCLAIMER: Cerita berikut ini hanya karangan untuk bahan candaan. Tujuannya agar pembaca bisa lebih ceria saat Lebaran di rumah bersama keluarga tercinta.

Kita mulai yah…

Syadan, tersebutlah sebuah keluarga yang terdiri atas suami, istri, dan seorang keponakan. Pasangan suami istri itu belum dikaruniai anak.

Kebetulan salah satu keponakannya sebut saja namanya, Amel, kuliah di sebuah PT yang kampusnya tak jauh dari rumah Om atau paman dan bibi-nya itu.

“Amel, besok kan Lebaran. Om dan Bibi mau ziarah ke makam leluhur. Siapa tahu setelah sholat Ied besok ada yang berlebaran ke rumah kita.”

“Ya Bi…”

“Oh ya, Mel, Bibi minta tolong ya. Amel ke pasar beli jajan pasar secukupnya saja, soalnya kalau beli roti biasanya pada kurang suka. Tetangga suka jajan pasar. Om dan Bibi berangkat dulu ya. Ini Uangnya.”

“Ya, Bi, saya tak mandi dulu, baru ke pasar,” kata Amel.

A few hours later…

Amel sudah pulang dari pasar, dia kemudian menuju ke mesin cuci untuk mencuci pakaiannya.

Om dan Bibinya tak lama kemudian juga pulang dari ziarah makam leluhur.

Bibinya langsung menuju ruang makan dan mendapati meja makannya penuh dengan jajan pasar.

Bibinya heran dengan uang segitu kok Amel bisa membeli jajan pasar demikian banyaknya.

Lalu bertanyalah dia pada Amel yang sedang di belakang rumah menjemur pakaiannya dengan setengah berteriak.

“Mel! Amel! ini jajan pasar kok segini banyaknya? Mana cukup uang dari Bibi tadi? Halal nggak nih?” tanya Bibi Amel.

Amel, karena dari lokasi menjemur pakaian yang jaraknya agak jauh dari ruang makan, juga dengan setengah berteriak menjawab, “Iya itu Bi. Amel beli dari uang yang dikasih Bibi. Halal Bi Halal,” kata Amel meyakinkan Bibinya.

“Beneran nih, Mel? Ini halal kan?”

“Iya, Halal Bi Halal,” jawab Amel kembali menegaskan.Nah, kata-kata Amel yang mengatakan : “Halal Bi Halal” itu didengar oleh para tetangga.

Mereka kemudian berfikir, oh…kalau Lebaran itu berarti “Halal Bi Halal”.

Sejak saat itu kalimat “Halal Bi Halal” menjadi viral sampai sekarang, xixixixi…

Pembaca yang budiman. Jangan marah ya… kan sudah tak kasih kasih DISCLAIMER. Maafin saya ya…Yuk kita ber-Halal Bi Halal, mohon maaf lahir dan batin.***

Related Posts

Kesalahan Memaknai Syukur Dapat Terjebak Zona Nyaman
  • April 3, 2025

APAAJA.NET – Syukur sering dianggap sebagai salah satu sikap hidup yang bisa mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan. Namun, tanpa disadari, pemahaman yang keliru tentang syukur justru bisa menjadi jebakan yang membuat…

Read More

Continue reading
Tetap Abadi: Menjaga Semangat Ibadah Setelah Ramadhan
  • April 2, 2025

APAAJA.NET – Ramadhan telah meninggalkan kita, tetapi semangatnya tetap hidup dalam diri kita. Bulan yang penuh berkah ini bukan hanya sekadar ritual tahunan, tetapi juga menjadi madrasah kehidupan yang mengajarkan…

Read More

Continue reading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *