APAAJA.NET – Ramadan di Samarinda selalu menghadirkan tradisi unik yang sarat makna. Salah satu yang paling dinanti adalah Tradisi Berbagi Bubur Peca di Samarinda, yang rutin digelar di kawasan Samarinda Seberang.
Di Masjid Shiratal Mustaqiem, para pengurus masjid bersama warga menyiapkan sekitar 300 porsi Bubur Peca setiap hari untuk dibagikan kepada masyarakat menjelang waktu berbuka puasa. Tradisi ini bukan sekadar membagikan makanan, tetapi menjadi simbol kuat kebersamaan dan warisan budaya yang telah hidup selama kurang lebih satu abad.
Sejarah Bubur Peca di Kampung Masjid
Tradisi ini berasal dari kawasan Kampung Masjid Samarinda Seberang. Sejak sekitar 100 tahun lalu, Bubur Peca telah menjadi hidangan khas Ramadan yang diwariskan secara turun-temurun.
Awalnya, bubur ini dimasak untuk jamaah masjid dan warga sekitar sebagai bentuk sedekah kolektif. Seiring waktu, kegiatan tersebut berkembang menjadi agenda rutin tahunan yang melibatkan lebih banyak masyarakat.
Dari Dapur Tradisional hingga Warisan Nasional
Bubur Peca kini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda tingkat nasional. Status ini menunjukkan bahwa tradisi tersebut memiliki nilai sejarah, sosial, dan budaya yang tinggi.
Pengakuan tersebut juga menjadi dorongan agar generasi muda terus menjaga dan melestarikan identitas kuliner khas daerahnya.
300 Porsi Setiap Hari, Siapa Saja Bisa Menikmati
Selama Ramadan, proses memasak dimulai sejak siang hari. Para pengurus masjid dan warga bekerja sama menyiapkan bahan, mengolah bubur, hingga membagikannya secara tertib menjelang Magrib.
Sekitar 300 porsi Bubur Peca dibagikan setiap hari. Tidak ada syarat khusus untuk mendapatkannya. Siapa pun yang datang dapat menikmati sajian ini sebagai menu berbuka puasa.
Simbol Kebersamaan dan Gotong Royong
Tradisi Berbagi Bubur Peca di Samarinda menjadi contoh nyata nilai gotong royong yang masih kuat. Warga bergantian membantu, baik dalam bentuk tenaga maupun bahan makanan.
Kegiatan ini mempererat hubungan sosial antarwarga, sekaligus menjadi momen silaturahmi yang hangat selama bulan suci.
Daya Tarik Ramadan di Samarinda Seberang
Selain sebagai tradisi lokal, pembagian Bubur Peca juga menjadi daya tarik tersendiri. Banyak warga dari luar kawasan Samarinda Seberang datang untuk menyaksikan langsung suasana pembagian bubur.
Kehangatan interaksi antara pengurus masjid dan masyarakat menciptakan atmosfer Ramadan yang kental dengan nilai kebersamaan.
Lebih dari Sekadar Kuliner
Bubur Peca bukan hanya hidangan untuk berbuka. Ia adalah simbol identitas budaya Kampung Masjid. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa makanan bisa menjadi medium untuk merawat sejarah dan memperkuat solidaritas sosial.
Di tengah modernisasi dan perubahan gaya hidup, Tradisi Berbagi Bubur Peca di Samarinda tetap bertahan. Justru, kehadirannya semakin bermakna sebagai penanda akar budaya yang tidak lekang oleh waktu.
Baca Juga : Foto: Tradisi Berbagi Bubur Peca Saat Ramadan di Samarinda
Tradisi Berbagi Bubur Peca di Samarinda saat Ramadan membuktikan bahwa kearifan lokal mampu bertahan selama lebih dari 100 tahun. Dengan 300 porsi yang dibagikan setiap hari di Masjid Shiratal Mustaqiem, semangat berbagi terus hidup dari generasi ke generasi.
Ramadan bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi juga tentang merawat tradisi dan memperkuat kebersamaan. Dan di Samarinda Seberang, semangat itu terasa nyata dalam setiap sendok Bubur Peca yang dibagikan.


