
APAAJA.NET – Demo besar-besaran di Jakarta pada Kamis (28/08) malam berubah tragis setelah seorang driver ojek online (ojol) tewas dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob. Insiden ini memicu kemarahan publik dan viral di media sosial dengan tuntutan agar polisi bertanggung jawab.
Berdasarkan rekaman video yang beredar, rantis Brimob terus melaju meski korban sudah terkapar di jalan. Beberapa demonstran bahkan mencoba menghentikan kendaraan tersebut, namun gagal.
Reaksi Publik dan Tuntutan Pertanggungjawaban
Ledakan Kemarahan di Media Sosial
- Ribuan warganet membanjiri media sosial dengan tagar protes.
- Muncul seruan aksi lanjutan untuk menuntut keadilan.
- Ajakan unjuk rasa tambahan mulai digaungkan oleh kelompok mahasiswa dan ojol.
Desakan Terhadap Pimpinan Kepolisian
Masyarakat mendesak agar Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan jajaran Brimob bertanggung jawab atas kejadian ini.
Kapolri dan Istana Kepresidenan Minta Maaf
Pernyataan Kapolri
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan permintaan maaf terbuka:
“Saya menyesali terhadap peristiwa yang terjadi dan mohon maaf sedalam-dalamnya,” ujar Listyo.
Pernyataan Istana
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi juga menyampaikan keprihatinan dan meminta aparat lebih sabar serta berhati-hati dalam melakukan pengamanan.
Tujuh Anggota Brimob Diperiksa Propam
Kepala Divisi Propam Polri, Irjen Abdul Karim, mengonfirmasi bahwa tujuh anggota Brimob yang berada di dalam rantis saat kejadian sudah diamankan.
Identitas Anggota yang Diperiksa
- Kompol C
- Aipda M
- Bripka R
- Briptu D
- Bripda M
- Baraka Y
- Baraka J
Mereka saat ini diperiksa di Mako Brimob, Kwitang, Jakarta Pusat untuk mendalami siapa yang menyetir dan bertanggung jawab langsung dalam insiden ini.
Dampak Politik dan Sosial dari Insiden Demo Jakarta
Insiden tragis ini memicu efek domino di berbagai sektor:
1. Keamanan dan Stabilitas Jakarta
Situasi di beberapa titik rawan memanas, terutama di sekitar DPR dan Mako Brimob.
2. Desakan Investigasi Independen
LSM, organisasi buruh, hingga komunitas ojol mendesak penyelidikan transparan atas kasus ini.
3. Gelombang Aksi Susulan
Ajakan demo susulan beredar luas di media sosial, berpotensi memperbesar eskalasi konflik.
Demo Jakarta 28 Agustus 2025 meninggalkan duka mendalam setelah seorang driver ojol tewas dilindas rantis Brimob. Publik menuntut keadilan, sementara Kapolri hingga Istana telah meminta maaf. Kini, tujuh anggota Brimob diperiksa Propam untuk mempertanggungjawabkan peristiwa yang viral ini.***