APAAJA.NET – Isu pendidikan kembali menjadi perbincangan hangat di ruang publik. Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat ramai membahas fakta mengejutkan tentang kondisi literasi siswa di Indonesia. Banyak siswa, termasuk di tingkat sekolah menengah, dinilai sudah mampu membaca secara teknis, namun belum mampu memahami isi bacaan dengan baik. Fenomena ini memantik keprihatinan luas karena menyentuh akar persoalan kualitas pendidikan nasional.
Ketika Membaca Tak Lagi Berarti Memahami
Kemampuan membaca seharusnya menjadi fondasi utama dalam proses belajar. Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa membaca masih sebatas aktivitas mengeja kata, bukan memahami makna. Akibatnya, siswa kesulitan menangkap inti pelajaran, menganalisis informasi, serta berpikir kritis. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada mata pelajaran bahasa, tetapi juga pada pelajaran lain seperti sains, matematika, hingga ilmu sosial yang menuntut pemahaman teks.
Perbincangan soal rendahnya literasi ini semakin ramai karena banyak guru dan orang tua mulai bersuara di media sosial. Mereka mengungkapkan kegelisahan terhadap metode pembelajaran yang terlalu berorientasi pada target kurikulum, tetapi kurang memberi ruang pada penguatan kemampuan dasar siswa. Tidak sedikit pula yang menilai bahwa sistem evaluasi pendidikan selama ini terlalu menekankan angka dan kelulusan, bukan pada kualitas pemahaman peserta didik.
Baca Juga: Burnout Diam-Diam Menyerang Anak Muda: Lelah Mental di Balik Gaya Hidup Serba Produktif
Pengaruh Teknologi terhadap Kebiasaan Membaca
Di sisi lain, perkembangan teknologi turut memengaruhi kebiasaan belajar anak. Akses informasi yang serba cepat membuat siswa terbiasa dengan konten singkat dan instan. Hal ini berdampak pada menurunnya minat membaca teks panjang serta melemahnya daya konsentrasi. Jika tidak diimbangi dengan strategi pembelajaran yang tepat, kemajuan teknologi justru berpotensi memperlebar kesenjangan literasi.
Baca Juga: Link Pendaftaran OSN 2026 Jenjang SD–SMA Sudah Dibuka, Cek Jadwal Lengkapnya di Sini
Tantangan Guru di Era Digital
Menanggapi situasi tersebut, pemerintah mendorong transformasi pendidikan melalui pemanfaatan platform digital dan penguatan kompetensi guru. Berbagai program diarahkan untuk membantu guru menghadirkan pembelajaran yang lebih interaktif dan berpusat pada siswa. Namun, upaya ini perlu diiringi dengan perubahan pendekatan di ruang kelas. Literasi tidak cukup diajarkan sebagai materi, melainkan harus dibiasakan melalui praktik membaca, berdiskusi, dan menulis secara konsisten.
Baca Juga: Sepi Peminat Sekolah Negeri: Alarm Pendidikan di Tengah Arus Perubahan Zaman
Membangun Budaya Literasi di Sekolah
Sekolah juga memiliki peran penting dalam menciptakan budaya literasi yang sehat. Perpustakaan yang hidup, kegiatan membaca bersama, serta pembelajaran yang mendorong siswa bertanya dan berpendapat menjadi kunci utama. Guru tidak hanya dituntut mengajar sesuai kurikulum, tetapi juga menjadi fasilitator yang mampu menumbuhkan rasa ingin tahu dan kecintaan terhadap pengetahuan.
Rendahnya kemampuan memahami bacaan bukan sekadar persoalan akademik, tetapi ancaman serius bagi masa depan bangsa. Generasi yang lemah literasi akan kesulitan menghadapi tantangan dunia kerja, mudah terpengaruh informasi keliru, serta kurang siap berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial dan demokrasi.
Kesimpulan
Oleh karena itu, isu literasi yang kini ramai dibicarakan seharusnya menjadi momentum evaluasi bersama. Pendidikan perlu kembali pada esensinya: membentuk manusia yang berpikir, bukan sekadar menghafal. Jika persoalan ini tidak ditangani secara serius dan berkelanjutan, maka krisis literasi akan terus berulang dan menjadi beban jangka panjang bagi pembangunan nasional.



