APAAJA.NET – Selama ini kuliah dimaknai sebagai sumber untuk menuntut ilmu. Namun, di era media sosial, kuliah tidak lagi dimaknai untuk menuntut ilmu, tetapi berubah menjadi simbol gengsi dan status sosial. Nama kampus, jurusan favorit, hingga almamater sering kali pencitraan di media sosial.
Tekanan Sosial dan Ambisi Masuk Kampus Bergengsi
Tekanan sosial telah menjadi faktor utama perubahan ini. Banyak anak muda sekarang yang berambisi masuk kuliah di perguruan tinggi bergengsi. Namun, mereka melupakan hal mendasar seperti kesiapan dari diri sendiri dan latar belakang keluarga.
Di lingkungan masyarakat, kuliah seolah menjadi standar keberhasilan. Mereka memposisikan kampus ternama sebagai tolak ukur kecerdasan.
Akibatnya, banyak calon mahasiswa yang memilih perguruan tinggi bukan berdasarkan minat, melainkan demi pengakuan sosial.
Baca Juga: Laptop di Sekolah Berbasis Pondok Pesantren: Antara Kebutuhan Belajar dan Kekhawatiran Etika
Perubahan Makna Kuliah di Era Media Sosial
Fenomena yang sekarang sering terjadi seperti unggahan jaket almamater, gedung kampus yang mewah, dan kehidupan mahasiswa, akan memicu adanya validasi sosial berupa likes dan komentar.
Padahal esensi kuliah bukanlah soal perguruan tinggi yang ternama, melainkan pada proses belajar dan arah hidup yang di bangun selama studi.
Baca Juga: Pendidikan Tinggi di Era Fleksibel: Jurusan Bukan Penentu Masa Depan
Mengabaikan Realitas Ekonomi
Satu hal yang lupa disadari bahwa masuk perguruan tinggi, apalagi lewat jalur non-reguler, sering kali membutuhkan biaya yang besar seperti uang gedung, UKT tinggi, dan biaya hidup selama studi.
Jika latar belakang keluarganya kurang mampu, maka hanya akan menciptakan beban ekonomi dan tekanan psikologis bagi mahasiswa.
Dampak Gengsi terhadap Mahasiswa
Realitas tersebut menunjukkan bahwa gengsi kerap mengalahkan rasionalitas. Tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya merasa salah jurusan, kehilangan motivasi belajar, bahkan memilih berhenti kuliah.
Kondisi bukan hanya merugikan individu, tetapi juga memperlihatkan kegagalan sistem sosial dalam memaknai pendidikan secara utuh.
Baca Juga: Mobil Arina SMK: Karya Anak Bangsa yang Pernah Gegerkan Indonesia, Mini tapi Angkut 600 Kg!
Dunia Kerja yang Semakin Fleksibel
Di sisi lain, dunia kerja kini semakin fleksibel. Pekerjaan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada nama besar almamater, melainkan lebih menilai keterampilan, pengalaman, serta kemampuan beradaptasi.
Banyak mahasiswa dari kampus yang kurang dikenal mampu bersaing karena memaksimalkan potensi diri dan terus belajar di luar ruang kelas.
Kesimpulan
Setiap anak muda memiliki jalan belajar yang berbeda. Tidak harus memasuki kampus bergengsi untuk menjadi berarti. Kuliah seharusnya menjadi proses menemukan diri, bukan perlombaan pencitraan.
Dengan memahami hal ini, kuliah dapat dimaknai lagi menjadi sumber untuk menuntut ilmu bukan untuk simbol gengsi dan status sosial.
Baca Juga: SDN 1 Gonoharjo Gelar Peringatan Hari Santri Nasional 2025 untuk Pertama Kalinya



