Laptop di Sekolah Berbasis Pondok Pesantren: Antara Kebutuhan Belajar dan Kekhawatiran Etika

APAAJA.NET Di era digital yang semakin maju, teknologi telah merambah ke berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Salah satu perangkat teknologi yang paling populer dan banyak digunakan dalam proses pembelajaran adalah laptop.

Manfaat Laptop bagi Proses Belajar Santri

Laptop telah menjadi kebutuhan dalam proses pembelajaran modern. Dengan kemampuannya untuk mengakses informasi, mengerjakan tugas, mengakses jurnal, hingga mengikuti pembelajaran daring.

Namun, kehadiran laptop di lingkungan sekolah berbasis pondok pesantren tidak hanya menghadirkan manfaat, tetapi juga memunculkan kekhawatiran, terutama terkait etika dan kedisiplinan santri.

Baca Juga: Pendidikan Tinggi di Era Fleksibel: Jurusan Bukan Penentu Masa Depan

Akses Informasi Lebih Luas dan Cepat

Disatu sisi, laptop Laptop memungkinkan siswa untuk mengakses informasi secara cepat dan mudah melalui internet. Mereka dapat mencari referensi, membaca artikel, menonton video pembelajaran, dan mengikuti kursus online.

Dalam konteks pendidikan modern, penguasaan teknologi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Sekolah berbasis pondok pesantren yang membuka ruang penggunaan laptop sejatinya sedang mempersiapkan santri agar tidak tertinggal oleh zaman.

Baca Juga: Bukan Sekadar Tipis! Inilah Teknologi Handphone Fleksibel yang Diprediksi Kuasai Masa Depan

Kekhawatiran Etika dan Kedisiplinan

Namun di sisi lain, Kekhawatiran tidak bisa diabaikan. Penggunaan laptop di sekolah berbasis pondok akan memicu terjadinya penyalahgunaan seperti, mengakses konten yang tidak sesuai dengan nilai-nilai pondok, membuka media sosial, serta bermain game.

Penyalahgunaan seperti ini yang menjadikan beberapa pondok pesantren tidak mendukung penggunaan laptop di sekolahnya.

Distraksi dalam Proses Pembelajaran

Meskipun demikian, kekhawatiran tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk menutup akses teknologi secara total. Namun, perlu adanya strategi yang harus diterapkan seperti: aturan yang jelas terkait waktu penggunaan laptop sehingga dapat mengurangi distraksi di kelas,

Pengawasan dari guru dan pengasuh pondok pesantren. Dengan pengelolaan yang tepat, teknologi bukanlah kekhawatiran, melainkan kebutuhan dalam proses pembelajaran yang modern.

Baca Juga: Gudang Marunda Jadi Andalan Blibli Perkuat Rantai Pasok Digital Nasional

Nilai Pesantren sebagai Fondasi Etika Digital

Pondok pesantren yang memiliki keunggulan dalam membentuk karakter disiplin dan moral santri. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi fondasi dalam mengarahkan penggunaan laptop secara bijak.

Mereka juga menjaga etikanya dalam mengakses konten dan manajemen waktu. Dengan demikian, santri tidak hanya cakap secara teknologi, tetapi juga matang secara moral.

Jembatan antara Tradisi dan Modernitas

Pada akhirnya, penggunaan laptop pada sekolah berbasis pondok pesantren bukanlah hal yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan, melainkan bagaimana cara mengelolanya. Dengan pendekatan yang tepat, laptop tidak akan menjadi ancaman, melainkan jembatan antara tradisi pendidikan berpondok dan modern.

Baca Juga: Undip Jadi Magnet Dunia! 16 Negara Bahas Masa Depan Laut dan Perikanan di Forum Internasional 2025

Related Posts

Kemdiktisaintek Mau Batasi Kuota Maba S1 PTN, Ini Tanggapan Dua Rektor PTS!
  • February 14, 2026

APAAJA.NET – Kemdiktisaintek batasi kuota maba S1 di PTN dan PTNBH untuk meningkatkan kualitas riset dan pendidikan tinggi di Indonesia. Tujuannya adalah agar PTNBH lebih fokus menjadi universitas riset dan…

Read More

Continue reading
Hanya 3 dari 10 Peserta Lolos UTBK SNBT Setiap Tahun, Apa Rahasianya?
  • February 13, 2026

APAAJA.NET – Data dari Kementerian Pendidikan dan panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) menunjukkan bahwa tingkat kelulusan Ujian Tulis Berbasis Komputer–Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) secara nasional berada…

Read More

Continue reading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *