APAAJA.NET – China siapkan aturan digital human sebagai langkah baru untuk mengawasi perkembangan manusia virtual berbasis kecerdasan buatan yang semakin masif di internet. Regulasi ini menjadi sorotan karena fokus utamanya bukan hanya transparansi teknologi, tetapi juga perlindungan anak dari potensi kecanduan, manipulasi emosional, dan bahaya psikologis di ruang digital.
Pemerintah melalui regulator siber mewajibkan seluruh konten yang menampilkan manusia virtual diberi label jelas sebagai digital human. Dengan begitu, pengguna tidak mudah terkecoh dan tetap mengetahui bahwa sosok yang dilihat atau diajak berinteraksi bukan manusia asli.
Selain itu, kebijakan ini mempertegas kekhawatiran bahwa AI berbentuk manusia virtual bisa memicu keterikatan emosional berlebihan, terutama pada anak dan remaja yang masih rentan secara psikologis.
China Siapkan Aturan Digital Human dengan Label Wajib di Semua Konten
Salah satu inti utama regulasi adalah transparansi.
Semua Avatar AI Wajib Diberi Label
Setiap konten berbentuk manusia virtual, baik untuk hiburan, customer service, edukasi, maupun media sosial, harus menampilkan label digital human secara jelas.
Langkah ini penting agar publik tidak tertipu oleh visual atau suara yang sangat realistis.
Cegah Penipuan dan Manipulasi
Dengan label wajib, risiko penyalahgunaan untuk impersonasi, penipuan, hingga misleading advertising bisa ditekan. Regulasi ini juga menutup celah penggunaan manusia digital untuk mengakali verifikasi identitas online.
Fokus Perlindungan Anak dari Bahaya Internet dan Kecanduan AI
Poin paling sensitif dari aturan ini adalah perlindungan anak.
Larangan Relasi Virtual untuk Anak di Bawah 18 Tahun
China secara tegas melarang layanan digital human yang menawarkan simulasi hubungan intim, pasangan virtual, atau keluarga virtual untuk pengguna di bawah usia 18 tahun.
Aturan ini dibuat untuk mencegah keterikatan emosional yang berlebihan dan kecanduan hubungan digital semu.
Cegah Layanan yang Picu Kecanduan
Selain hubungan virtual, layanan yang mendorong penggunaan berlebihan, konsumsi impulsif, atau perilaku tidak sehat juga masuk dalam pengawasan ketat.
Tujuannya adalah menjaga kesehatan mental anak agar tidak terlalu bergantung pada interaksi dengan AI.
Perlindungan Data Pribadi dan Hak Individu Diperketat
Selain anak, isu data pribadi juga menjadi perhatian besar.
Dilarang Pakai Data Orang Tanpa Izin
Pembuatan digital human menggunakan wajah, suara, atau data pribadi seseorang tanpa persetujuan resmi dilarang keras.
Aturan ini memberi perlindungan lebih kuat terhadap:
- pencurian identitas
- deepfake
- penyalahgunaan suara
- avatar palsu tokoh publik
Hak Privasi dan Reputasi Dijaga
Regulasi juga menekankan perlindungan terhadap hak reputasi, hak cipta, dan privasi agar teknologi AI tetap berkembang tanpa merugikan individu.
Konten Sensitif dan Intervensi Mental Health Jadi Sorotan
China juga memberi perhatian serius pada dampak psikologis.
Konten Kekerasan dan Seksual Dibatasi
Penyedia layanan diwajibkan mencegah konten:
- seksual
- horor
- kekerasan
- diskriminasi etnis
- provokasi sosial
Pembatasan ini bertujuan menjaga ruang digital tetap aman, terutama untuk pengguna muda.
Intervensi Jika Ada Tanda Self-Harm
Jika sistem mendeteksi tanda pengguna memiliki kecenderungan bunuh diri atau melukai diri sendiri, penyedia layanan didorong melakukan intervensi dan menyediakan bantuan profesional.
Dampak Aturan Baru bagi Industri AI China
Langkah China siapkan aturan digital human juga berdampak besar pada industri AI.
AI Tetap Tumbuh, Tapi Lebih Terkontrol
China tetap agresif mengembangkan AI untuk berbagai sektor ekonomi. Namun, pertumbuhan itu kini dibarengi pagar regulasi yang lebih jelas agar inovasi tetap sehat.
Standar Baru untuk Industri Global
Aturan ini berpotensi menjadi acuan global karena isu avatar AI, deepfake, dan hubungan virtual kini menjadi tantangan di banyak negara.
Baca Juga: Astronaut Artemis II Tiba di Belakang Bulan, Cetak Rekor Jarak Terjauh dari Bumi
Kebijakan China siapkan aturan digital human menunjukkan bahwa perkembangan AI kini tidak lagi sekadar soal inovasi, tetapi juga menyangkut keamanan siber, perlindungan anak, privasi, dan kesehatan mental.
Dengan label wajib, larangan relasi virtual untuk anak, perlindungan data pribadi, serta intervensi terhadap risiko self-harm, China sedang membangun fondasi tata kelola AI yang lebih ketat namun tetap memberi ruang inovasi.
Jika tren manusia virtual terus berkembang, aturan seperti ini kemungkinan besar akan menjadi standar baru bagi ekosistem internet global.



