APAAJA.NET – Hutan lawan banjir bukan sekadar slogan, tetapi strategi nyata yang bisa menyelamatkan kota dan desa dari bencana. Dengan memanfaatkan kekuatan pohon, akar, dan tutupan tanah alami, hutan mampu menyerap air hujan, mengurangi limpasan, dan meminimalkan risiko longsor. Banyak pakar lingkungan menekankan bahwa hutan lawan banjir juga lebih berkelanjutan dibanding tanggul beton semata.
Rahasia Hutan sebagai “Spons Alami”
Hutan larangan adat dan tutupan pohon di daerah hulu bertindak sebagai menara air alami. Daun, serasah, akar, dan lumut bekerja menyerap air hujan sehingga aliran ke hilir lebih lambat dan risiko banjir berkurang. Tanah yang sehat menahan air dan memperkecil erosi, sementara akar pohon berfungsi sebagai jangkar yang memperkuat lereng dan mengurangi longsor.
Prinsip “Slow Water” dan Rawa Lebak
Di Sumatra dan Kalimantan, rawa lebak menyimpan air saat hujan, lalu melepaskannya perlahan saat kemarau. Masyarakat Ciamis mempraktikkan hal serupa melalui kolam ikan, yang berfungsi menahan aliran air sementara. Strategi ini dikenal sebagai prinsip slow water, memberikan waktu agar air menetap di daratan dan mengurangi dampak banjir.
Agroforestri Kopi sebagai Contoh NBS
Pohon Naungan sebagai Payung
Petani menggabungkan pohon kopi dengan pohon naungan tinggi. Tajuk pohon memecah jatuhnya air hujan sehingga tanah tidak rusak dan resapan meningkat.
Lantai Hutan yang Kaya Serasah
Serasah daun, ranting, dan sisa tanaman membusuk memperkaya hara tanah dan membantu air meresap seperti spons raksasa. Teknik rorak (parit buntu) memperlambat aliran air ke sungai.
Menjaga Kelembapan dan Keanekaragaman Hayati
Agroforestri menjaga kelembapan tanah, meningkatkan hasil panen, sekaligus menyediakan habitat satwa dan penyerbuk alami tanpa bergantung bahan kimia.
Mengapa Alam Lebih Efektif daripada Beton
Riset menunjukkan bahwa Nature-Based Solutions sering lebih efektif dibanding infrastruktur beton. Beton memiliki umur pakai terbatas, waduk terhambat sedimentasi, sementara alam memberikan manfaat bertumpuk: mencegah banjir, menyaring air bersih, menyerap karbon, dan mendukung kesejahteraan masyarakat sekitar.
Tantangan Penerapan NBS
- Sulit Diukur: Manfaat gabungan seperti karbon, sosial, dan mitigasi banjir sulit dihitung dalam angka finansial instan.
- Tata Kelola Terfragmentasi: Lembaga air, kehutanan, dan tata ruang belum selaras.
- Keraguan Publik: NBS sering dianggap pelengkap, bukan solusi utama dibanding beton.
Baca Juga : Cuma Modal “Spons” dan Akar, Ini Alasannya Kenapa Hutan Lebih Ampuh Lawan Banjir
Dari berbagai bukti lapangan dan penelitian, jelas bahwa hutan lawan banjir lebih efektif dibanding infrastruktur buatan. Agroforestri, tutupan tanah, dan penanaman pohon secara strategis mendukung kemampuan hutan menyerap air dan menjaga ekosistem. Dengan menerapkan prinsip hutan lawan banjir, masyarakat tidak hanya mengurangi risiko banjir tetapi juga menjaga lingkungan dan sumber daya air untuk generasi mendatang.



