APAAJA.NET – Ledakan AI generatif melahirkan ratusan perusahaan rintisan baru dalam waktu singkat. Namun, di balik euforia tersebut, muncul peringatan keras dari raksasa teknologi. Isu Startup AI Sepi Peminat mulai mencuat setelah petinggi Google menyebut ada dua model bisnis yang kemungkinan besar tidak akan bertahan dalam jangka panjang.
Peringatan ini datang dari Darren Mowry, VP Google Cloud yang mengawasi program startup global di Google Cloud, serta terlibat dalam ekosistem DeepMind dan Alphabet.
Dua Model Startup AI yang Diprediksi Sepi Peminat
Menurut Mowry, dua tipe bisnis artificial intelligence yang rawan kehilangan daya tarik adalah LLM wrapper dan agregator AI.
1. LLM Wrapper: Sekadar Bungkus Tanpa Diferensiasi
LLM wrapper adalah startup yang membangun produk di atas model AI seperti GPT, Claude, atau Gemini, tetapi tidak memiliki kekayaan intelektual (IP) yang kuat.
Biasanya, mereka hanya menambahkan antarmuka (UI) baru di atas model yang sudah ada tanpa inovasi signifikan. Contohnya adalah aplikasi AI untuk membantu siswa belajar atau menulis.
Menurut Mowry, jika bisnis hanya menjadi “cover” dari model AI yang sudah bagus tanpa diferensiasi nyata, maka industri lambat laun tidak akan tertarik.
Namun, ada pengecualian. Startup seperti Cursor dan Harvey AI dinilai memiliki diferensiasi kuat karena fokus pada vertikal spesifik, seperti pengkodean dan layanan hukum.
2. Agregator AI: Hanya Mengumpulkan Model
Model kedua yang berisiko adalah agregator AI. Startup jenis ini menyediakan akses ke berbagai model AI melalui satu API atau platform.
Contohnya termasuk platform pencarian AI atau penyedia orkestrasi model yang menawarkan pemantauan dan tata kelola.
Di tahap awal, model ini terlihat menjanjikan. Tetapi menurut Mowry, pengguna kini tidak hanya mencari akses ke banyak model AI. Mereka menginginkan solusi yang memahami konteks, domain industri, serta mampu memberikan rekomendasi cerdas.
Mengapa Startup AI Sepi Peminat Bisa Terjadi?
Fenomena Startup AI Sepi Peminat diprediksi terjadi karena pasar semakin matang. Pengguna kini lebih selektif dan mencari nilai tambah yang nyata.
Pengguna Ingin IP yang Terintegrasi
Mowry menegaskan bahwa perusahaan rintisan harus memiliki keunggulan kompetitif yang kuat, baik secara horizontal maupun vertikal. Tanpa IP yang jelas dan diferensiasi spesifik, bisnis sulit berkembang.
Agregator yang hanya bertindak sebagai perantara model tanpa inovasi mendalam dinilai tidak akan bertahan lama.
Pelajaran dari Era Cloud Computing
Menariknya, Mowry membandingkan situasi ini dengan masa awal komputasi awan di akhir 2000-an. Saat itu, banyak startup muncul untuk menjual kembali infrastruktur AWS.
Namun, ketika Amazon memperkuat layanannya dan pelanggan belajar mengelola cloud secara langsung, sebagian besar startup tersebut tersingkir.
Yang bertahan hanyalah perusahaan yang menawarkan nilai tambah nyata, seperti keamanan, migrasi sistem, atau konsultasi DevOps.
Masa Depan Startup AI: Bertahan atau Tumbang?
Startup AI Sepi Peminat bukan sekadar prediksi pesimistis. Ini adalah peringatan bahwa pasar AI generatif mulai memasuki fase seleksi alami.
Startup yang hanya mengandalkan tren tanpa inovasi mendalam berpotensi ditinggalkan. Sebaliknya, perusahaan yang mampu menghadirkan solusi spesifik, memiliki IP kuat, dan memahami kebutuhan industri berpeluang bertahan.
Baca Juga : Menurut Google, Dua Tipe Startup AI Ini Bakal Sepi Peminat di Masa Depan
Di tengah persaingan ketat dan perkembangan teknologi yang sangat cepat, pertanyaannya kini bukan lagi siapa yang paling cepat meluncur, tetapi siapa yang benar-benar punya fondasi kuat untuk bertahan.


