APAAJA.NET – Isu anak dilarang pakai IG TikTok menjadi sorotan setelah pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital berencana membatasi akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun. Kebijakan ini direncanakan mulai diterapkan secara bertahap pada akhir Maret.
Langkah tersebut dilakukan untuk melindungi anak dari berbagai risiko di dunia digital. Selain potensi kejahatan siber, penggunaan media sosial sejak usia dini juga dinilai dapat memicu kecanduan digital dan berdampak pada kesehatan mental.
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, pembatasan akses media sosial diharapkan menjadi upaya preventif agar anak tidak terlalu bergantung pada platform digital seperti Instagram dan TikTok.
Kemenkes Soroti Risiko Candu Media Sosial pada Anak
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, mengungkapkan data yang cukup mengkhawatirkan terkait penggunaan internet oleh anak-anak di Indonesia.
Sekitar 48 persen pengguna internet di Indonesia adalah anak di bawah 18 tahun, sementara 80 persen anak mengakses internet hingga rata-rata 7 jam per hari.
Risiko Gangguan Psikologis
Penelitian longitudinal dan meta-analisis terbaru menunjukkan bahwa penggunaan media sosial sejak usia dini memiliki hubungan dengan peningkatan risiko gangguan psikologis saat remaja.
Beberapa dampak yang sering muncul antara lain:
- Gangguan tidur
- Citra diri negatif
- Menurunnya kepercayaan terhadap orang lain
- Tekanan sosial di dunia digital
Oleh karena itu, kebijakan anak dilarang pakai IG TikTok dianggap sebagai salah satu upaya untuk menekan risiko tersebut.
Tantangan Adaptasi bagi Anak dan Orang Tua
Meski memiliki tujuan baik, pembatasan media sosial juga dapat memunculkan tantangan baru. Anak mungkin membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut.
Dampak Jangka Pendek
Dalam beberapa bulan pertama, anak bisa mengalami beberapa kondisi seperti:
- Perasaan terisolasi dari teman
- Konflik dengan orang tua
- Kesulitan menyesuaikan kebiasaan digital
Selain itu, terdapat risiko keterlambatan literasi digital apabila anak tidak diberikan alternatif pembelajaran teknologi.
Karena itu, orang tua memiliki peran penting untuk memberikan pendampingan serta edukasi digital kepada anak.
Dampak Positif Pembatasan Media Sosial pada Anak
Di sisi lain, kebijakan anak dilarang pakai IG TikTok juga memiliki berbagai manfaat dalam jangka panjang.
Manfaat Jangka Pendek
Dalam waktu dekat, anak dapat terhindar dari paparan konten negatif di internet. Selain itu, kualitas tidur dan konsentrasi belajar juga berpotensi meningkat.
Manfaat Jangka Menengah
Dalam periode sekitar 3 hingga 24 bulan, beberapa perubahan positif yang dapat terjadi antara lain:
- Menurunnya kecanduan digital
- Meningkatnya interaksi tatap muka
- Berkurangnya tekanan sosial dari media sosial
Manfaat Jangka Panjang
Dalam jangka waktu yang lebih lama, kondisi emosional anak dapat menjadi lebih stabil. Selain itu, keterampilan sosial juga cenderung meningkat dan risiko gangguan mental bisa menurun.
Namun demikian, manfaat tersebut akan lebih optimal jika pembatasan disertai dengan edukasi dan kegiatan alternatif bagi anak.
Pentingnya Pendampingan Orang Tua dalam Era Digital
Kebijakan anak dilarang pakai IG TikTok bukan hanya tentang membatasi akses teknologi. Lebih dari itu, langkah ini bertujuan membantu anak menggunakan teknologi secara sehat dan bijak.
Orang tua serta fasilitas kesehatan diharapkan aktif melakukan pendampingan, meningkatkan literasi digital, serta memantau kesehatan mental anak selama masa adaptasi.
Baca Juga : Kemenkes Sebar 7 Ribu Posko Kesehatan Mudik, Bisa CKG-Imunisasi Campak
Dengan pendekatan yang tepat, pembatasan media sosial tidak hanya mengurangi risiko kecanduan digital, tetapi juga membantu anak tumbuh dengan perkembangan mental dan sosial yang lebih sehat di era digital.


